DEFINISI
Penyakit jantung koroner merupakan kelainan miokardium akibat insufisiensi aliran darah koroner oleh arteriosklerosis yaitu suatu keadaan pada arteri besar ataupun kecil yang ditandai oleh adanya penebalan dan pengerasan dinding arteri. Lesi mengandung defosit lipid dan mengalami kalsifikasi, mengakibatkan obstruksi pembuluh darah, agregasi trombosit dan vasokontriksi abnormal.
Penyakit jantung akibat insufisiensi aliran darah koroner dapat dibagi menjadi 3 jenis:
1. Penyakit jantung arteriosklerotik
2. Angina pektoris
3. Infark miokardium
ETIOLOGI
Aterosklerosis pembuluh koroner merupakan penyebab penyakit arteri koronaria yang paling sering ditemukan.
Keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen terganggu
1. Faktor resiko :
Yang tidak dapat diubah : usia, jenis kelamin, ras, dan riwayat keluarga
2. Yang dapat diubah : hipertensi, kolesterol, merokok, peningkatan kadar
lipid,dan gangguan toleransi glukosa.
PATOGENESIS
Penyakit Jantung Aterosklerosis
Pembuluh arteri mengikuti proses penuaan penebalan tunika intima, berkurangnya elastisitas, penumpukan kalsium terutama di arteri-arteri besar menyebabkan fibrosis yang merata aliran darah lambat laun berkurang.
Manifestasi PJK disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen miokrdium dengan masuk oksigen:
Hipoksemi (iskemi) yang ditimbulkan oleh kelainan vaskular.
Hipoksia (anoksi) yang disebabkan kekurangan oksigen dalam darah.
Ada beberapa hipotesis mengenai terjadinya proses aterosklerosis :
1. Kolesterol serum yang tinggi
HDLmembawa lemak ke luar sel diuraikan bersifat protektif melawan arteriosklerosis.
LDL dan VLDL membawa lemak ke sel tubuh, termasuk sel endotel arteri, oksidasi kolesterol dan trigliserid pembentukan radikal bebas merusak sel-sel endotel.
2. Tekanan Darah Tinggi
tekanan darah yang tinggi secara kronis menimbulkan gaya regang merobek lapisan endotel arteri dan arteriol (khas untuk arteri koroner, aorta, dan arteri-arteri serebrum) timbul kerusakan berulang peradangan, penimbunan sel darah putih dan trombosit, serta pembentukan bekuan trombus terlepas embolus
3. Infeksi Virus
Infeksi peradangan leukosit dan trombosit membentuk bekuan dan jaringan parut. Virus spesifik yang diduga berperan dalam teori ini adalah sitomegalovirus , amggota famili virus herpes.
4. Kadar Besi Darah yang Tinggi
kadar besi serum yang tinggi dapat merusak arteri koroner atau memperparah kerusakan yang di sebabkan oleh hal lain.
Angina Pectoris
Penyebab angina pektoris adalah suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel miokardium dibandingkan kebutuhan, tanpa kelainan morfologik.Jika beban kerja suatu jaringan meningkat kebutuhan oksigen meningkat; pada jantung yang sehat, arteria koroner berdilatasi dan mengalirkan lebih banyak darah dan oksigen ke otot jantung; namun jika arteria koroner mengalami kekakuan atau menyempit akibat arterosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemi miokardium.
Infark Miokardium ( MCI )
Infark miokard biasanya disebabkan oleh trombus arteri koroner; prosesnya mula-mula berawal dari rupturnya plak yang kemudian diikuti oleh pembentukan trombus oleh trombosit. Lokasi dan luasnya infark miokard tergantung pada jenis arteri yang oklusi dan aliran darah kolateral.
GEJALA KLINIS
Sesak napas /napas terasa pendek pada saar beraktivitas yang cukup berat, yang biasanya tak menimbulkan keluhan. Makin lama sesak makin bertambah, sekalipun aktivitas ringan.
Klaudikasio intermiten, suatu perasaan nyeri dan keram di ekstremitas bawah.
Nyeri dada
Letak Nyeri
Nyeri dada di daerah sternum/substernal/dada sebelah kiri dan kadang menjalar ke lengan kiri, punggung, rahang, leher, atau ke lengan kanan.
Nyeri dada dapat timbul di tempat lain seperti di daerah
epigastrium, leher, rahang, gigi, bahu.
Kualitas
Pada angina, nyeri dada biasanya seperti tertekan benda berat/ seperti di peras/ terasa panas, pendidikan pasien kuranghanya perasaan tidak enak di dada karena pasien tidak dapat menjelaskan dengan baik
Dada terasa tertekan seperti ditindih benda berat, leher rasa tercekik, serperti ditusuk-tusuk/diirisinfark
Rasa nyeri hebat sekali sehingga penderita gelisah, takut, berkeringat dingin dan lemas infark
Hubungan dengan aktivitas
Nyeri dada biasanya timbul saat beraktivitas, waktu istirahat atau waktu tidur malam. Nyeri dada tersebut segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya angina
tidak sepenuhnya hilang dengan istirahat ataupun pemberian nitrogliserin infark
Lamanya serangan
nyeri dada biasanya berlangsung 1-5 menit, perasaan tidak enak di dada masih terasa setelah nyeri hilang. Bila berlangsung lebih dari 20 menit, mungkin infark miokard akut dan bukan angina pektoris biasa.
Pada angina pektoris dapat timbul keluhan lain seperti sesak napas, perasaan lelah, kadang-kadang nyeri dada disertai keringat dingin.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiologis: pembesaran ventrikel kiri dengan cekungan pada segmen pulmonal kiri.
Laboratorium: ditemukan hiperlipidemia, hiperhomosistein, dan enzim CPK, SGOT, LDH serta fraksi enzim MB-CK, kadar gula darah,
EKG: T terbalik dan depresi segmen ST → iskemia miokardium
Adanya gelombang Q yang nyata/tidak nyata → infark miokardium
EKG pada keadaan istirahat mungkin saja normal.
Arteriografi koroner: adanya penyempitan pembuluh darah koroner.
PENATALAKSANAAN
1. Umum
2. Mengatasi iskemia yang terdiri dari :
a. Medikamentosa
Nitrat, dapat diberikan parenteral, sublingual, buccal, oral,transdermal dan ada yang di buat lepas lambat
Berbagai jenis penyekat beta untuk mengurangi kebutuhan oksigen. Ada yang bekerja cepat seperti pindolol dan pro-panolol. Ada yang bekerja lambat seperti sotalol dan nadolol. Ada beta 1 selektif seperti asebutolol, metoprolol dan atenolol.
Antagonis kalsium
b. Revaskularisasi
Pemakaian trombolitik
Prosedur invasif non operatif, yaitu melebarkan aa coronaria dengan balon.
Operasi.
Terima kasih
Untuk Rina Kartini Marpaung
Selasa, Juli 12, 2011
Jumat, Mei 27, 2011
Tukak Peptik
DEFINISI
Penyakit tukak peptic (peptic ulcer disease, PUD) secara anatomis didefinisikan sebagai suatu defek mukosa/ submukosa yang berbatas tegas dapat menembus muskularis mukosa dan lapisan serosa sehingga dapat terjadi perforasi. Sedangkan secara klinis, suatu tukak adalah hilangnya epitel superficial atau lapisan lebih dalam dengan diameter ≥ 5mm yang dapat diamati secara endoskopis atau radiologis.
Tukak bisa terjadi di esofagus, gaster dan duodenum.
EPIDEMIOLOGI
Resiko terjadinya tukak peptik meningkat seiring bertambahnya usia.
Pria lebih sering terkena daripada wanita (2:1)
H. pylori teridentifikasi 95% pada tukak duodenum dan 30-80% pada tukak lambung.
RS.Pendidikan di Makassar, dari pemeriksaan endoskopik terhadap 1615 pasien dengan dispepsia kronik tukak duodenum 14 %, tukak duodenum + tukak lambung 5% ; umur terbanyak antara 45 – 65 tahun.
Medan 20,01%
ETIOLOGI
Beberapa penyebab :
Infeksi Helicobacter pylori (HP)
Penggunaan NSAID
Hipersekresi Asam Lambung
Stress fisiologis berat
Faktor resiko :
Usia lanjut
Riwayat tukak peptik sebelumnya
Merokok, alkohol, kafein
penggunaan ulcerogenic medications (seperti kortikosteroid) atau antikoagulan
Sindrom Zollinger Edison
PATOGENESIS
Schwarst 1910 : “No Acid No Ulcer”
Sel parietal (oxyntic) mengeluarkan asam lambung HCl, sel peptik (zymogen) mengeluarkan pepsinogen yang oleh HCl diubah menjadi pepsin. Keduanya faktor agresif terutama pepsin dengan mileu pH < 4 sangat agresif untuk merusak mukosa lambung. Konjetzny 1924 : “Ulcus does not develop in healthy mucosa” Tukak akibat gangguan keseimbangan faktor agresif (asam lambung dan pepsin) dengan faktor defensif/mukosa barier (mukus, bicarbonat) gangguan integritas mukosa lambung. Shay and Sun “Balance theory” 1974 : Tukak terjadi bila terjadi gangguan keseimbangan antara factor agresif (asam & pepsin) dengan defensive (bikarbonat, mucus, aliran darah, prostaglandin). Bisa factor agresif yang meningkat atau factor defensive menurun. Warren & Marshall 1983 (Perth, Australia ) : “ No HP No Ulcer” 1983 : * Memproduksi toksik → local tissue injury * Menginduksi respon imun lokal pada mukosa terjadi kegagalan respon inflamasi dan reaksi imun untuk mengeliminasi bakteri ini * Meningkatkan level gastrin → meningkatkan sekresi asam. DIAGNOSIS
GEJALA KLINIS
Kadang asimptomatis
Sekitar 90% nyeri pada epigastrium, seperti terbakar disertai mual, muntah, perut kembung.
Dapat juga terjadi komplikasi akut pada saluran cerna bagian atas.
Penurunan berat badan disertai anoreksia.
Pada tukak duodeni (HPFR = hunger pain food relief) rasa sakit pada 75 % pasien bisa membangunkan pasien tengah malam. Sedangkan rasa sakit tukak lambung timbul setelah makan. Lokasi nyeri yang ditimbulkan tukak lambung sebelah kiri sedangkan tukak deuodenum sebelah kanan garis tengan abdomen. Rasa sakit bermula pada satu titik ( pointing sign) dan akhirnya difus menjalar ke punggung.
Gejala-gejala tukak duodenum memiliki periode remisi dan eksaserbasi, menjadi tenang bermingu-minggu, berbulan-bulan dan kemudian terjadi eksaserbasi beberapa minggu merupakan gejala khas.
Nyeri muncul tiba-tiba dan menjalar ke punggung waspadaiadanya penetrasi ke pancreas,
Nyeri yang muncul dan menetap mengenai seluruh perut curigai suatu perforasi.
Gejala mual dan muntah timbul perlahan dan menetap obstruksi pada outlet (GGO)
Adanya melena harus waspadai suatu perdarahan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Uji laboratorium dapat mendukung diagnosis tukak peptik. Pengujian ini antara lain studi sekresi asam lambung, konsentrasi gastrin serum puasa, nilai hematokrit dan hemoglobin (umumnya rendah).
1. Pemeriksaan Radiologi.
Barium Meal Kontras Ganda dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis tukak peptik → berupa kawah, batas jelas disertai lipatan mukosa teratur dari pinggiran tukak dan niche. Filling defect curiga ganas → tepi tukak tidak teratur.
2. Pemeriksaan Endoskopi
Berupa luka terbuka dengan pinggiran teratur,mukosa licin dan normal disertai lipatan yang teratur yang keluar dari pinggiran tukak.Gambaran tukak akibat keganasan adalah : Boorman-I/polipoid, B-II/ulcerative, B-III/infiltrative, B-IV/linitis plastika (scirrhus). Dianjurkan untuk biopsi & endoskopi ulang 8-12 minggu setelah terapi eradikasi.
Keunggulan endoskopi dibanding radiologi adalah : dapat mendeteksi lesi kecil diameter < 0,5 cm, dapat melihat lesi yang tertutupi darah dengan penyemprotan air,dapat memastikan suatu tukak ganas atau jinak, dapat menentukan adanya kuman H.Pylori sebagai penyebab tukak. 3. Invasive Test : Rapid Urea Test : Tes kemampuan H.pylori untuk menghidrolisis urea. Enzim urea katalase menguraikan urea menjadi amonia bikarbonat,membuat suasana menjadi basa,yang diukur dengan indikator pH. Spesimen biopsi dari mukosa lambung diletakkan pada tempat yang berisi cairan atau medium padat yang mengandung urea dan pH indikator, jika terdapat H.Pylori pada spesimen tersebut maka akan diubah menjadi ammonia,terjadi perubahan pH dan perubahan warna. Histologi: Biopsi diambil dari pinggiran dan dasar tukak min.4 sampel untuk 2 kuadran, bila ukuran tukak besar diambil sampel dari 3 kuadran dari dasar,pinggir dan sekitar tukak (min. 6 sampel). Kultur : Untuk kultur tidak biasa dilakukan pada pemeriksaan rutin 4. Non Invasive Test. Urea Breath Test: Mendeteksi adanya infeksi H.pylori dengan keberadaan urea yang dihasilkan H.pylori, labeled karbondioksida (isotop berat,C-13,C-14) produksi dalam perut,diabsorpsi dalam pembuluh darah,menyebar dalam paru-paru dan akhirnya dikeluarkan lewat pernapasan. Stool antigen test : Test ini juga mengidentifikasi adanya infeksi H.Pylori melalui mendeteksi keadaan antigen H.Pylori dalam faeces. PENATALAKSANAAN
NON FARMAKOLOGI
Pengaturan pola makan dan pola hidup
Menghindari merokok
Pembedahan
FARMAKOLOGI
Antasida
Antagonis Reseptor H2 (H2RA – H2 Reseptor Antagonist) simetidin, ranitidin, famotidin, nizatidin
Penghambat pompa Proton (PPI – Proton Pump Inhibitor) omeprazol, lansoprazol, pantoprazol, rabeprazol, dan esomeprazol.
Analog Prostaglandin Misoprostol
Sitoprotektif Sucralfat
Antimuskarinik Pirenzepin
Antibiotik Amoksisilin,tetrasiklin, klaritomisin, metronidazol
Tujuan Eradikasi H.Pylori mengurangi keluhan, penyembuhan tukak dan mencegah kekambuhan.
Terapi dual antara PPI/ARH2 + 1 antibiotik efek eradikasi minimal dan cepat menimbulkan resisten kuman
Terapi triple,yang banyak digunakan saat ini adalah :
PPI 2 x1 + Amoksisilin 2 x 1000 + Klaritromisin 2 x 500 (regimen terbaik )
PPI 2 x 1 + Metronidazol 3 x 500 + Klaritromisin 2x 500 (jika alergi penisilin)
PPI 2 x 1 + Metronidazol 3 x 500 + Amoksisilin 2 x 1000
PPI 2×1+ Metro 3×500+Tetrasiklin4x500(if alergi amok & Klaritromisin)
Lama pengobatan eradikasi H.Pylori adalah 2 minggu,untuk kesembuhan tukak,bisa dilanjutkan pemberian PPI selama 3 – 4 minggu lagi.
Terapi Kuadrupel; jika gagal dengan terapi triple maka dianjurkan dengan terapi kuadrupel yaitu PPI 2 x sehari,Bismuth subsalisilat 4 x 2 tab,MNZ 4 x 250 mg,Tetrasiklin 4 x 500 mg.
Pada resistensi dapat dianjurkan PPI,Amoksisilin,dan Rifabutin selama 10 hari.
Pada tukak refrakter bisa sembuh bila dosis PPI ditingkatkan/dosis ganda Omeprazol 40 mg,lansoprazole 60 mg,bila gagal maka dilakukan operasi elektif.
KOMPLIKASI
Bisa terjadi Perdarahan, perforasi, obstruksi, dan penetrasi.
PROGNOSIS
Apabila penyebab yang mendasari dari tukak peptik ini diatasi maka akan memberikan prognosa yang bagus.Kebanyakan penderita sembuh dengan terapi untuk infeksi H.Pylori,menghindari OAINS dan meminum obat antisekretorus pada lambung.
Penyakit tukak peptic (peptic ulcer disease, PUD) secara anatomis didefinisikan sebagai suatu defek mukosa/ submukosa yang berbatas tegas dapat menembus muskularis mukosa dan lapisan serosa sehingga dapat terjadi perforasi. Sedangkan secara klinis, suatu tukak adalah hilangnya epitel superficial atau lapisan lebih dalam dengan diameter ≥ 5mm yang dapat diamati secara endoskopis atau radiologis.
Tukak bisa terjadi di esofagus, gaster dan duodenum.
EPIDEMIOLOGI
Resiko terjadinya tukak peptik meningkat seiring bertambahnya usia.
Pria lebih sering terkena daripada wanita (2:1)
H. pylori teridentifikasi 95% pada tukak duodenum dan 30-80% pada tukak lambung.
RS.Pendidikan di Makassar, dari pemeriksaan endoskopik terhadap 1615 pasien dengan dispepsia kronik tukak duodenum 14 %, tukak duodenum + tukak lambung 5% ; umur terbanyak antara 45 – 65 tahun.
Medan 20,01%
ETIOLOGI
Beberapa penyebab :
Infeksi Helicobacter pylori (HP)
Penggunaan NSAID
Hipersekresi Asam Lambung
Stress fisiologis berat
Faktor resiko :
Usia lanjut
Riwayat tukak peptik sebelumnya
Merokok, alkohol, kafein
penggunaan ulcerogenic medications (seperti kortikosteroid) atau antikoagulan
Sindrom Zollinger Edison
PATOGENESIS
Schwarst 1910 : “No Acid No Ulcer”
Sel parietal (oxyntic) mengeluarkan asam lambung HCl, sel peptik (zymogen) mengeluarkan pepsinogen yang oleh HCl diubah menjadi pepsin. Keduanya faktor agresif terutama pepsin dengan mileu pH < 4 sangat agresif untuk merusak mukosa lambung. Konjetzny 1924 : “Ulcus does not develop in healthy mucosa” Tukak akibat gangguan keseimbangan faktor agresif (asam lambung dan pepsin) dengan faktor defensif/mukosa barier (mukus, bicarbonat) gangguan integritas mukosa lambung. Shay and Sun “Balance theory” 1974 : Tukak terjadi bila terjadi gangguan keseimbangan antara factor agresif (asam & pepsin) dengan defensive (bikarbonat, mucus, aliran darah, prostaglandin). Bisa factor agresif yang meningkat atau factor defensive menurun. Warren & Marshall 1983 (Perth, Australia ) : “ No HP No Ulcer” 1983 : * Memproduksi toksik → local tissue injury * Menginduksi respon imun lokal pada mukosa terjadi kegagalan respon inflamasi dan reaksi imun untuk mengeliminasi bakteri ini * Meningkatkan level gastrin → meningkatkan sekresi asam. DIAGNOSIS
GEJALA KLINIS
Kadang asimptomatis
Sekitar 90% nyeri pada epigastrium, seperti terbakar disertai mual, muntah, perut kembung.
Dapat juga terjadi komplikasi akut pada saluran cerna bagian atas.
Penurunan berat badan disertai anoreksia.
Pada tukak duodeni (HPFR = hunger pain food relief) rasa sakit pada 75 % pasien bisa membangunkan pasien tengah malam. Sedangkan rasa sakit tukak lambung timbul setelah makan. Lokasi nyeri yang ditimbulkan tukak lambung sebelah kiri sedangkan tukak deuodenum sebelah kanan garis tengan abdomen. Rasa sakit bermula pada satu titik ( pointing sign) dan akhirnya difus menjalar ke punggung.
Gejala-gejala tukak duodenum memiliki periode remisi dan eksaserbasi, menjadi tenang bermingu-minggu, berbulan-bulan dan kemudian terjadi eksaserbasi beberapa minggu merupakan gejala khas.
Nyeri muncul tiba-tiba dan menjalar ke punggung waspadaiadanya penetrasi ke pancreas,
Nyeri yang muncul dan menetap mengenai seluruh perut curigai suatu perforasi.
Gejala mual dan muntah timbul perlahan dan menetap obstruksi pada outlet (GGO)
Adanya melena harus waspadai suatu perdarahan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Uji laboratorium dapat mendukung diagnosis tukak peptik. Pengujian ini antara lain studi sekresi asam lambung, konsentrasi gastrin serum puasa, nilai hematokrit dan hemoglobin (umumnya rendah).
1. Pemeriksaan Radiologi.
Barium Meal Kontras Ganda dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis tukak peptik → berupa kawah, batas jelas disertai lipatan mukosa teratur dari pinggiran tukak dan niche. Filling defect curiga ganas → tepi tukak tidak teratur.
2. Pemeriksaan Endoskopi
Berupa luka terbuka dengan pinggiran teratur,mukosa licin dan normal disertai lipatan yang teratur yang keluar dari pinggiran tukak.Gambaran tukak akibat keganasan adalah : Boorman-I/polipoid, B-II/ulcerative, B-III/infiltrative, B-IV/linitis plastika (scirrhus). Dianjurkan untuk biopsi & endoskopi ulang 8-12 minggu setelah terapi eradikasi.
Keunggulan endoskopi dibanding radiologi adalah : dapat mendeteksi lesi kecil diameter < 0,5 cm, dapat melihat lesi yang tertutupi darah dengan penyemprotan air,dapat memastikan suatu tukak ganas atau jinak, dapat menentukan adanya kuman H.Pylori sebagai penyebab tukak. 3. Invasive Test : Rapid Urea Test : Tes kemampuan H.pylori untuk menghidrolisis urea. Enzim urea katalase menguraikan urea menjadi amonia bikarbonat,membuat suasana menjadi basa,yang diukur dengan indikator pH. Spesimen biopsi dari mukosa lambung diletakkan pada tempat yang berisi cairan atau medium padat yang mengandung urea dan pH indikator, jika terdapat H.Pylori pada spesimen tersebut maka akan diubah menjadi ammonia,terjadi perubahan pH dan perubahan warna. Histologi: Biopsi diambil dari pinggiran dan dasar tukak min.4 sampel untuk 2 kuadran, bila ukuran tukak besar diambil sampel dari 3 kuadran dari dasar,pinggir dan sekitar tukak (min. 6 sampel). Kultur : Untuk kultur tidak biasa dilakukan pada pemeriksaan rutin 4. Non Invasive Test. Urea Breath Test: Mendeteksi adanya infeksi H.pylori dengan keberadaan urea yang dihasilkan H.pylori, labeled karbondioksida (isotop berat,C-13,C-14) produksi dalam perut,diabsorpsi dalam pembuluh darah,menyebar dalam paru-paru dan akhirnya dikeluarkan lewat pernapasan. Stool antigen test : Test ini juga mengidentifikasi adanya infeksi H.Pylori melalui mendeteksi keadaan antigen H.Pylori dalam faeces. PENATALAKSANAAN
NON FARMAKOLOGI
Pengaturan pola makan dan pola hidup
Menghindari merokok
Pembedahan
FARMAKOLOGI
Antasida
Antagonis Reseptor H2 (H2RA – H2 Reseptor Antagonist) simetidin, ranitidin, famotidin, nizatidin
Penghambat pompa Proton (PPI – Proton Pump Inhibitor) omeprazol, lansoprazol, pantoprazol, rabeprazol, dan esomeprazol.
Analog Prostaglandin Misoprostol
Sitoprotektif Sucralfat
Antimuskarinik Pirenzepin
Antibiotik Amoksisilin,tetrasiklin, klaritomisin, metronidazol
Tujuan Eradikasi H.Pylori mengurangi keluhan, penyembuhan tukak dan mencegah kekambuhan.
Terapi dual antara PPI/ARH2 + 1 antibiotik efek eradikasi minimal dan cepat menimbulkan resisten kuman
Terapi triple,yang banyak digunakan saat ini adalah :
PPI 2 x1 + Amoksisilin 2 x 1000 + Klaritromisin 2 x 500 (regimen terbaik )
PPI 2 x 1 + Metronidazol 3 x 500 + Klaritromisin 2x 500 (jika alergi penisilin)
PPI 2 x 1 + Metronidazol 3 x 500 + Amoksisilin 2 x 1000
PPI 2×1+ Metro 3×500+Tetrasiklin4x500(if alergi amok & Klaritromisin)
Lama pengobatan eradikasi H.Pylori adalah 2 minggu,untuk kesembuhan tukak,bisa dilanjutkan pemberian PPI selama 3 – 4 minggu lagi.
Terapi Kuadrupel; jika gagal dengan terapi triple maka dianjurkan dengan terapi kuadrupel yaitu PPI 2 x sehari,Bismuth subsalisilat 4 x 2 tab,MNZ 4 x 250 mg,Tetrasiklin 4 x 500 mg.
Pada resistensi dapat dianjurkan PPI,Amoksisilin,dan Rifabutin selama 10 hari.
Pada tukak refrakter bisa sembuh bila dosis PPI ditingkatkan/dosis ganda Omeprazol 40 mg,lansoprazole 60 mg,bila gagal maka dilakukan operasi elektif.
KOMPLIKASI
Bisa terjadi Perdarahan, perforasi, obstruksi, dan penetrasi.
PROGNOSIS
Apabila penyebab yang mendasari dari tukak peptik ini diatasi maka akan memberikan prognosa yang bagus.Kebanyakan penderita sembuh dengan terapi untuk infeksi H.Pylori,menghindari OAINS dan meminum obat antisekretorus pada lambung.
Rabu, April 27, 2011
PROFIL KLINIK YULIARPAN MEDIKA
Klinik Yuliarpan Medika merupakan suatu badan usaha yang khusus bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan. Tidak hanya berperan aktif dalam memberikan
dan memelihara kesehatan masyarakat umum, lokasi klinik yang terletak lingkungan beberapa perusahaan industry maka kami juga peduli serta berkomitmen untuk
dapat berpasrtisipasi dalam pelayanan kesehatan dan keselamatan kerja karyawan
perusahaan. Oleh sebab itu, kami
berusaha dan ingin berperan penuh dengan memfasilitasi perusahaan-perusahaan
dalam melaksanakan program kesehatan dan
keselamatan kerja di perusahaan, demi terwujudnya kesejahteraan karyawan
dan produktifitas kerja yang optimal, sehingga tujuan utama perusahaan akan
dapat dicapai dengan maksimal.
Klinik Yuliarpan Medika selalu berupaya
untuk memberikan jasa pelayanan kesehatan yang optimal, profesional dan
komprehensif baik kepada masyarakat maupun para karyawan perusahaan
yang telah ataupun akan bekerjsama dengan kami. Kami menawarkan jasa untuk
menjamin kesejahteraan secara efisien dan efektif tanpa mengurangi kewajiban
perusahaan terhadap karyawan, sehingga perusahaan dapat lebih konsentrasi untuk
melaksanakan tugas utamanya.
Adapun
alamat kami adalah :
Alamat klinik : Jl. Raya Setu KM. 3 No. 149 (Depan
PT.YKT Gear) Ds. Cibuntu Kec. Cibitung Kab. Bekasi
Telpon : 021 – 9494 8523 / 0857 6349 1234 / 0822 3389 1234
Email : pietyuliarpan@gmail.com
No Izin : 503 / IIA / Dinkes / KP-TTP / 2014
Dalam
rangka meng-update perkembangan dibidang pelayanan kesehatan, dahulu dikenal
dengan nama Klinik Dr. Hasto S kini telah berevolusi menjadi Klinik Yuliarpan
Medika (YM). Tentu, landasan utamanya adalah evaluasi serta untuk meningkatkan
mutu pelayanan dengan melengkapi fasilitas pelayanan yang disediakan agar
tercipta pelayanan kesehatan yang holistic dan berkesinambungan selama 24
jam/hari.
Klinik
Yuliarpan Medika sangat berkeinginan berperan aktif dalam mendukung pemerintah
maupun pihak swasta lain untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh
masyarakat dan karyawan perusahaan. Dengan lokasi klinik yang berdekatan dengan
beberapa perusahaan dan berdekatan dengan kawasan industry, saat ini telah
telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan tersebut dalam memberikan
pelayanan kesehatan umum, kecelakaan kerja, maupun medical check up.
Visi, Misi
dan Motto Klinik
Untuk mendapat sebuah pencapaian yang maksimal dalam memberikan pelayanan
kesehatan yang terbaik maka sudah selayaknya kami memiliki visi dan misi yang
jelas agar semua tujuan dapat mudah dicapai. Adapun visi dan misi Klinik
Yuliarpan Medika adalah sebagai berikut :
Visi : Menyehatkan masyarakat dan memasyarakatkan
kesehatan
Misi :
1. Sebagai wujud pengabdian para dokter kepada masyarakat dengan ikut serta dalam usaha untuk meningkatkan derajat kesejahteraan melalui peningkatan kesehatan.
1. Sebagai wujud pengabdian para dokter kepada masyarakat dengan ikut serta dalam usaha untuk meningkatkan derajat kesejahteraan melalui peningkatan kesehatan.
2. Sebagai
mitra pemerintah maupun swasta dalam memberikan pelayanan prefentif, kuratif
dan rehabilitative yang komprehensif dan berkesinambungan.
3. Memberikan
pelayanan medis dasar yang berbasis hemat dan terjangkau.
4. Memberikan
penangaanan yang tepat dan rasional kepada maksyarakat dan karyawan yang membutuhkan tindakan
medis termasuk kecelakaan kerja.
5. Meningkatkan
produktifitas karyawan dengan meningkatkan derajat kesehatan.
6.
Menjadi
fasilitas pelayanan primer yang professional dan berkualitas.
Motto
: Amanah dan
professional dalam melayani pasien.
Jumat, Maret 04, 2011
Laminaria
Heemz...bingung mau ngupdate apaan. Eh jadi teringat sesuatu tentang minggu kemaren banyak Pat yang mau di kuret. Sebelum dilakukan tindakan kuretase tersebut biasanya dipasang laminaria di malam harinya. The question is "What is Laminaria?"
Nah jadi aku keliling-keliling lah nanya nanya tentang laminaria. Sebetulnya sempat dijelasin dikit tapi karena posisiku paling belakang jadi kurang jelas gitu. Eeh di perjalanan ketemu lagi ma drdidispog.com.
Laminaria itu ternyata adalah rumput laut. Rumput laut ini banyak tumbuh dan dibudidayakan di Korea, Cina, dan Jepang. Laminaria berasal dari batang Laminaria Japonica dan Laminaria digitate. Dalam literatur Cina kuno sudah tercatat sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu. Selama 100 tahun terakhir Laminaria telah digunakan di Amerika Serikat. Panjangnya lebih kurang 6-7 cm dan diamternya 2 - 3 mm. Laminaria dikemas dan disterilkan menggunakan radiasi gamma. Kalo cara mensterilkanya blum tau ni he.
Beberapa minggu lalu ada pat datang ke poli kebidanan dan setelah dilakukan USG, dokter mengatakan bahwa ia mengalami abrtus inkomplit sehingga bakal janin dsb yang tersisa didalam harus dikeluarkan yaitu dengan melakukan kuretase. Pat pun dirawat inapkan dan pada malam hari sekitar jam 21.00 wib pat dipasang Laminaria tersebut. Jadi Laminaria digunakan untuk membuka leher rahim guna evakuasi kehamilan misalnya seperti pada kasus diatas.
Dan seperti yang aku dengar sedikit waktu dijelaskan bahwa laminaria bersifat hidroskopik itu artinya laminaria dapat menyerap air. Jadi laminaria akan menyerap air dari leher rahim tersebut lalu mengembang perlahan-lahan dan akhirnya membuka leher rahim tersebut. Selain itu laminaria juga merangsang pembentukan dan pelepasan prostaglandin yang menyebabkan perubahan lokal di leher rahim berupa pematangan leher rahim (lunak dan melebar) sehingga lebih mudah didilatasi dengan alat (dilatator) agar evakuasi isi rahim lebih mudah. Setelah dipasang, Laminaria dibiarkan selama 3 - 24 jam di dalam leher rahim.
"Penggunaan laminaria mengurangi komplikasi sekitar 20 - 40 % karena kalo evakuasi dilakukan secara paksa yang hanya mengandalkan dilatasai servik saja akan menyebabkan cedera pada leher rahim mungkin berupa robekan leher rahim, rahim perforasi, kerusakan pada otot leher rahim, perdarahan ato mungkin kematian ibu." Kata dr. Didi, SpOG.
"Sedangkan komplikasi pemasangan laminaria yang dapat terjadi yaitu berupa sulit melepaskan, masuk kedalam rahim, impactment (terjebak di dalam) di leher rahim, putus dari ujung ke ujung. Komplikasi2 ini jarang terjadi jika Laminaria dipasang secara benar dan hati-hati ditempatkan langsung di dalam leher rahim. Komplikasi lain termasuk kram pada saat pemasangan. Ada beberapa kasus yang dilaporkan terjadi reaksi alergi terhadap laminaria (anafilaksis) dan infeksi." tambahnya.
Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat.
sumber : www.drdidispog.com
Nah jadi aku keliling-keliling lah nanya nanya tentang laminaria. Sebetulnya sempat dijelasin dikit tapi karena posisiku paling belakang jadi kurang jelas gitu. Eeh di perjalanan ketemu lagi ma drdidispog.com.
Laminaria itu ternyata adalah rumput laut. Rumput laut ini banyak tumbuh dan dibudidayakan di Korea, Cina, dan Jepang. Laminaria berasal dari batang Laminaria Japonica dan Laminaria digitate. Dalam literatur Cina kuno sudah tercatat sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu. Selama 100 tahun terakhir Laminaria telah digunakan di Amerika Serikat. Panjangnya lebih kurang 6-7 cm dan diamternya 2 - 3 mm. Laminaria dikemas dan disterilkan menggunakan radiasi gamma. Kalo cara mensterilkanya blum tau ni he.
Beberapa minggu lalu ada pat datang ke poli kebidanan dan setelah dilakukan USG, dokter mengatakan bahwa ia mengalami abrtus inkomplit sehingga bakal janin dsb yang tersisa didalam harus dikeluarkan yaitu dengan melakukan kuretase. Pat pun dirawat inapkan dan pada malam hari sekitar jam 21.00 wib pat dipasang Laminaria tersebut. Jadi Laminaria digunakan untuk membuka leher rahim guna evakuasi kehamilan misalnya seperti pada kasus diatas.
Dan seperti yang aku dengar sedikit waktu dijelaskan bahwa laminaria bersifat hidroskopik itu artinya laminaria dapat menyerap air. Jadi laminaria akan menyerap air dari leher rahim tersebut lalu mengembang perlahan-lahan dan akhirnya membuka leher rahim tersebut. Selain itu laminaria juga merangsang pembentukan dan pelepasan prostaglandin yang menyebabkan perubahan lokal di leher rahim berupa pematangan leher rahim (lunak dan melebar) sehingga lebih mudah didilatasi dengan alat (dilatator) agar evakuasi isi rahim lebih mudah. Setelah dipasang, Laminaria dibiarkan selama 3 - 24 jam di dalam leher rahim.
"Penggunaan laminaria mengurangi komplikasi sekitar 20 - 40 % karena kalo evakuasi dilakukan secara paksa yang hanya mengandalkan dilatasai servik saja akan menyebabkan cedera pada leher rahim mungkin berupa robekan leher rahim, rahim perforasi, kerusakan pada otot leher rahim, perdarahan ato mungkin kematian ibu." Kata dr. Didi, SpOG.
"Sedangkan komplikasi pemasangan laminaria yang dapat terjadi yaitu berupa sulit melepaskan, masuk kedalam rahim, impactment (terjebak di dalam) di leher rahim, putus dari ujung ke ujung. Komplikasi2 ini jarang terjadi jika Laminaria dipasang secara benar dan hati-hati ditempatkan langsung di dalam leher rahim. Komplikasi lain termasuk kram pada saat pemasangan. Ada beberapa kasus yang dilaporkan terjadi reaksi alergi terhadap laminaria (anafilaksis) dan infeksi." tambahnya.
Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat.
sumber : www.drdidispog.com
Jumat, Februari 11, 2011
KISTA OVARIUM
Seperti anak-anak zaman sekarang (mank aku anak zaman kapan ya?hehe)yang dilakuin cuma fb iaaaaan aj....padah gak ngapa-ngapain juga dengan fb, paling cuma chatting ma kawan. Dasar emank koas pemalas hehehe (sssst ini aib, jgn di sebar luas kan ya....) mau berubah jadi semangai itu susaaaaaaaah sekali. Padahal kalo ditanya cita-citanya, pasti jawab ingin jadi orang sukses, ingin jadi dokter yang profesional...iya kan.....? makanya jangan malaz.
Nah ini untuk kesekian kalinya ke warnet, bingung mau ngapain. Aaagh jadi inget minggu kemaren, aku, gak cuma aku se..ma kawan-kawan koas yang lain juga ikut (liat aj) operasi kista ovarium. Jadi aku sempatin lah baca di internet, cari-cari tentang kista ovarium. Maaf buku yang kumiliki terbatas jadi belajarnya baca-baca dari internet aja ya. Kalo ada yang mau nyumbangin textboook aku terima deh hehehe...(ngarep.com).
Begini ni : sebetulnya secara normal kista (kantong yang berisi cairan) pada kedua indung telur sering terjadi tapi ukuran kecil. Umumnya kista ini tidak mengganggu dan akan hilang dengan sendirinya. Tetapi pada kasus2 kista lainnya bisa menyebabkan masalah dan perlu diobati.
Salah satu indung telur secara normal akan menghasilkan sel telur setiap bulannya. Sel telur ini berada dalam suatu kantong yang disebut dengan folikel, tumbuh didalam
indung telur. Pada hari ke 5 siklus mens, hormon estrogen menstimulasi lapisan bagian dalam rahim (endometrium) untuk tumbuh dan menebal, persiapan akan kemungkinan adanya kehamilan. Sekitar hari ke 14 sel telur dikeluarkan / dilepaskan dari indung telur, proses ini dinamakan ovulasi.
Sel telur yang dihasilkan akan bergerak ke arah saluran telur ( tuba fallopi) yang selanjutnya akan dibuahi oleh sperma, proses ini dinamakan konsepsi. Setelah ovulasi folikel yang kosong tadi menjadi korpus luteum, yang tetap bertahan sampai priode mens berikutnya. Korpus luteum berfungsi mempersiapkan endometrium agar siap untuk menerima sel hasil konsepsi tadi.
Kista Ovarium cukup sering dialami wanita disaat usia reproduksinya. Kista bisa bervariasi ukurannya serta terdapat berbagai macam jenis kista ovarium. Kebanyakan kista jinak (bukan kanker), sementara sebagian kecil lainnya bisa berupa kista yang ganas (kanker), sehingga semua bentuk kista harus diperiksakan ke dokter.
Ini jenis-jenisnya :
Kista Fungsional
Ini merupakan jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan. Asalnya dari dari sel telur dan korpus luteum. Sehingga dikenal 2 jenis kista ini yaitu Kista Folikel dan Kista korpus luteum. Kedua jenis kista ini biasanya tidak menimbulkan gejala. Biasanya akan hilang sendiri dalam 6–8 minggu.
Kista Dermoid
Kista jenis ini mengandung berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit, kuku, rambut, gigi dan lemak. Bisa ditemukan pada kedua bagian indung telur. Kista Dermoid biasanya kecil dan tidak menyebabkan gejala, kecuali kistanya membesar.
Cystadenoma
Adalah kista yang asalnya dari sel bagian luar indung telur. Biasanya jinak, bisa tumbuh menjadi sangat besar dan bisa menimbulkan nyeri.
Kista Hemorrhagia
Merupakan jenis kista fungsional yang mengalami perdarahan didalamnya. Sehingga menimbulkan nyeri pada salah satu sisi perut bagian bawah.
Kista Coklat (Endometrioma)
Endometrioma adalah kista yang berasal dari jaringan endometrium yang ada di indung telur (endometrium yang tidak pada tempatnya). Jaringan ini mengikut pola endometrium yang ada didalam rahim, sehingga tiap bulannya ikut menghasilkan darah haid. Karena tindakan ada akses keluar, makanya terus numpuk didalam indung telur dan menjadi kista. Sehingga dikenal juga dengan istilah Kista Coklat (berisi darah yang warnanya coklat kehitaman)
Udah tau akan jenis-jenisnya? nah kalau ukuran kistanya kecil biasanya tidak menimbulkan gejala tetapi sampai ukuran tertentu bisa menyebabkan kista torsi (terpuntir), perdarahan atau pun pecah. kalai ini terjadi maka akan menimbulkan gejala nyeri perut yang hebat (akut abdomen) dan memerlukan tindakan pembedahan segera (emergensi).
Kista yang besar, akan membuat penderitanya mengalami pembesaran perut serta mengalami gejala-gejala penekanan ke organ-organ di sekitarnya. Menekan usus akan membuat jadi susah nge-pup, menekan ginjal (saluran kencing) menyebabkan gangguan pipis dan gangguan ginjal.
Sebagian kista bisa berupa keganasan (kanker) terutama pada usia yang sangat muda (anak-anak) atau usia diatas 40 tahun ( jarang keganasan pada wanita muda). Pada tahap awal kanker indung telur tidak memberikan gejala apa-apa.
Berikut gejala kanker indung telur :
# Gangguan pencernaan yang persisten, kembung atau mual
# Perubahan kebiasaan pup (bowel habit), seperti adanya konstipasi
# Perubahan berkemih, termasuk berkemih yang sering
# Hilang nafsu makan, atau cepat kenyang (perut terasa penuh)
# Pembesaran perut (celana pada sempit)
# Nyeri saat senggama (dyspareunia)
# Selalu kurang tenaga
# Nyeri tulang punggung bawah (Low back pain)
# Perubahan menstruasi
Kista ovarium sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin. Jika terdeteksi, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan: ultrasonografi, laparoskopi, pemeriksaan darah (tumor marker = penanda tumor),
Jika kistanya tidak menimbulkan gejala, biasanya cuma dimonitor 1-2 bulan, karena jika kista fungsional, akan hilang dengan sendirinya setelah 1 atau 2 siklus haid. Jika kistanya membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan. Jenis dan luasnya pembedahan tergantung beberapa faktor: ukuran dan jenis kista, usia, gejala dan keinginan memiliki anak.
Kadang-kadang kista dapat diangkat tanpa mengangkat indung telur tindakannya disebut kistektomi. Jika diangkat seluruh indung telurnya (karena rusak akibat pembesaran kista) maka tindakannya disebut oophorektomi atau ovarektomi. Buat kanker, setelah pembedahan biasanya diberikan pengobatan kimia (kemoterapi). Penentuan keganasan tetap harus berdasarkan pemeriksaan Patologi (PA).
ini kata dr.Didi, Sp.OG. makasi ya dokter, doakan saya ya hehee...lajut cari sumber lain aaaah.
Read more:
http://www.drdidispog.com/2009/06/kista-ovarium.html#ixzz1DedmBIug
Nah ini untuk kesekian kalinya ke warnet, bingung mau ngapain. Aaagh jadi inget minggu kemaren, aku, gak cuma aku se..ma kawan-kawan koas yang lain juga ikut (liat aj) operasi kista ovarium. Jadi aku sempatin lah baca di internet, cari-cari tentang kista ovarium. Maaf buku yang kumiliki terbatas jadi belajarnya baca-baca dari internet aja ya. Kalo ada yang mau nyumbangin textboook aku terima deh hehehe...(ngarep.com).
Begini ni : sebetulnya secara normal kista (kantong yang berisi cairan) pada kedua indung telur sering terjadi tapi ukuran kecil. Umumnya kista ini tidak mengganggu dan akan hilang dengan sendirinya. Tetapi pada kasus2 kista lainnya bisa menyebabkan masalah dan perlu diobati.
Salah satu indung telur secara normal akan menghasilkan sel telur setiap bulannya. Sel telur ini berada dalam suatu kantong yang disebut dengan folikel, tumbuh didalam
indung telur. Pada hari ke 5 siklus mens, hormon estrogen menstimulasi lapisan bagian dalam rahim (endometrium) untuk tumbuh dan menebal, persiapan akan kemungkinan adanya kehamilan. Sekitar hari ke 14 sel telur dikeluarkan / dilepaskan dari indung telur, proses ini dinamakan ovulasi.
Sel telur yang dihasilkan akan bergerak ke arah saluran telur ( tuba fallopi) yang selanjutnya akan dibuahi oleh sperma, proses ini dinamakan konsepsi. Setelah ovulasi folikel yang kosong tadi menjadi korpus luteum, yang tetap bertahan sampai priode mens berikutnya. Korpus luteum berfungsi mempersiapkan endometrium agar siap untuk menerima sel hasil konsepsi tadi.
Kista Ovarium cukup sering dialami wanita disaat usia reproduksinya. Kista bisa bervariasi ukurannya serta terdapat berbagai macam jenis kista ovarium. Kebanyakan kista jinak (bukan kanker), sementara sebagian kecil lainnya bisa berupa kista yang ganas (kanker), sehingga semua bentuk kista harus diperiksakan ke dokter.
Ini jenis-jenisnya :
Kista Fungsional
Ini merupakan jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan. Asalnya dari dari sel telur dan korpus luteum. Sehingga dikenal 2 jenis kista ini yaitu Kista Folikel dan Kista korpus luteum. Kedua jenis kista ini biasanya tidak menimbulkan gejala. Biasanya akan hilang sendiri dalam 6–8 minggu.
Kista Dermoid
Kista jenis ini mengandung berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit, kuku, rambut, gigi dan lemak. Bisa ditemukan pada kedua bagian indung telur. Kista Dermoid biasanya kecil dan tidak menyebabkan gejala, kecuali kistanya membesar.
Cystadenoma
Adalah kista yang asalnya dari sel bagian luar indung telur. Biasanya jinak, bisa tumbuh menjadi sangat besar dan bisa menimbulkan nyeri.
Kista Hemorrhagia
Merupakan jenis kista fungsional yang mengalami perdarahan didalamnya. Sehingga menimbulkan nyeri pada salah satu sisi perut bagian bawah.
Kista Coklat (Endometrioma)
Endometrioma adalah kista yang berasal dari jaringan endometrium yang ada di indung telur (endometrium yang tidak pada tempatnya). Jaringan ini mengikut pola endometrium yang ada didalam rahim, sehingga tiap bulannya ikut menghasilkan darah haid. Karena tindakan ada akses keluar, makanya terus numpuk didalam indung telur dan menjadi kista. Sehingga dikenal juga dengan istilah Kista Coklat (berisi darah yang warnanya coklat kehitaman)
Udah tau akan jenis-jenisnya? nah kalau ukuran kistanya kecil biasanya tidak menimbulkan gejala tetapi sampai ukuran tertentu bisa menyebabkan kista torsi (terpuntir), perdarahan atau pun pecah. kalai ini terjadi maka akan menimbulkan gejala nyeri perut yang hebat (akut abdomen) dan memerlukan tindakan pembedahan segera (emergensi).
Kista yang besar, akan membuat penderitanya mengalami pembesaran perut serta mengalami gejala-gejala penekanan ke organ-organ di sekitarnya. Menekan usus akan membuat jadi susah nge-pup, menekan ginjal (saluran kencing) menyebabkan gangguan pipis dan gangguan ginjal.
Sebagian kista bisa berupa keganasan (kanker) terutama pada usia yang sangat muda (anak-anak) atau usia diatas 40 tahun ( jarang keganasan pada wanita muda). Pada tahap awal kanker indung telur tidak memberikan gejala apa-apa.
Berikut gejala kanker indung telur :
# Gangguan pencernaan yang persisten, kembung atau mual
# Perubahan kebiasaan pup (bowel habit), seperti adanya konstipasi
# Perubahan berkemih, termasuk berkemih yang sering
# Hilang nafsu makan, atau cepat kenyang (perut terasa penuh)
# Pembesaran perut (celana pada sempit)
# Nyeri saat senggama (dyspareunia)
# Selalu kurang tenaga
# Nyeri tulang punggung bawah (Low back pain)
# Perubahan menstruasi
Kista ovarium sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin. Jika terdeteksi, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan: ultrasonografi, laparoskopi, pemeriksaan darah (tumor marker = penanda tumor),
Jika kistanya tidak menimbulkan gejala, biasanya cuma dimonitor 1-2 bulan, karena jika kista fungsional, akan hilang dengan sendirinya setelah 1 atau 2 siklus haid. Jika kistanya membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan. Jenis dan luasnya pembedahan tergantung beberapa faktor: ukuran dan jenis kista, usia, gejala dan keinginan memiliki anak.
Kadang-kadang kista dapat diangkat tanpa mengangkat indung telur tindakannya disebut kistektomi. Jika diangkat seluruh indung telurnya (karena rusak akibat pembesaran kista) maka tindakannya disebut oophorektomi atau ovarektomi. Buat kanker, setelah pembedahan biasanya diberikan pengobatan kimia (kemoterapi). Penentuan keganasan tetap harus berdasarkan pemeriksaan Patologi (PA).
ini kata dr.Didi, Sp.OG. makasi ya dokter, doakan saya ya hehee...lajut cari sumber lain aaaah.
Read more:
http://www.drdidispog.com/2009/06/kista-ovarium.html#ixzz1DedmBIug
Sabtu, Januari 08, 2011
Skizofrenia
Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Pada pasien penderita, ditemukan penurunan kadar transtiretin atau pre-albumin yang merupakan pengusung hormon tiroksin, yang menyebabkan permasalahan pada zalir serebrospinal.
Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia.
75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.
Pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting karena semakin lama ia tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Seseorang yang mengalami gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikolog.
Gejala
Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi: pasien sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi. Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin.
Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:
1. Gejala-gejala Positif
Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.
2. Gejala-gejala Negatif
Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).
Meski bayi dan anak-anak kecil dapat menderita skizofrenia atau penyakit psikotik yang lainnya, keberadaan skizofrenia pada grup ini sangat sulit dibedakan dengan gangguan kejiwaan seperti autisme, sindrom Asperger atau ADHD atau gangguan perilaku dan gangguan Post Traumatic Stress Dissorder. Oleh sebab itu diagnosa penyakit psikotik atau skizofrenia pada anak-anak kecil harus dilakukan dengan sangat berhati-hati oleh psikiater atau psikolog yang bersangkutan.
Pada remaja perlu diperhatikan kepribadian pra-sakit yang merupakan faktor predisposisi skizofrenia, yaitu gangguan kepribadian paranoid atau kecurigaan berlebihan, menganggap semua orang sebagai musuh. Gangguan kepribadian skizoid yaitu emosi dingin, kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyendiri. Pada gangguan skizotipal orang memiliki perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil, afek sempit, percaya hal-hal aneh, pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya, persepsi pancaindra yang tidak biasa, pikiran obsesif tak terkendali, pikiran yang samar-samar, penuh kiasan, sangat rinci dan ruwet atau stereotipik yang termanifestasi dalam pembicaraan yang aneh dan inkoheren.
Tidak semua orang yang memiliki indikator premorbid pasti berkembang menjadi skizofrenia. Banyak faktor lain yang berperan untuk munculnya gejala skizofrenia, misalnya stresor lingkungan dan faktor genetik. Sebaliknya, mereka yang normal bisa saja menderita skizofrenia jika stresor psikososial terlalu berat sehingga tak mampu mengatasi. Beberapa jenis obat-obatan terlarang seperti ganja, halusinogen atau amfetamin (ekstasi) juga dapat menimbulkan gejala-gejala psikosis.
Penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu menghindari reaksi yang berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan. Perawatan terpenting dalam menyembuhkan penderita skizofrenia adalah perawatan obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan dengan perawatan terapi psikologis.
Kesabaran dan perhatian yang tepat sangat diperlukan oleh penderita skizofrenia. Keluarga perlu mendukung serta memotivasi penderita untuk sembuh. Kisah John Nash, doktor ilmu matematika dan pemenang hadiah Nobel 1994 yang mengilhami film A Beautiful Mind, membuktikan bahwa penderita skizofrenia bisa sembuh dan tetap berprestasi.
Pada pasien penderita, ditemukan penurunan kadar transtiretin atau pre-albumin yang merupakan pengusung hormon tiroksin, yang menyebabkan permasalahan pada zalir serebrospinal.
Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia.
75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.
Pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting karena semakin lama ia tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Seseorang yang mengalami gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikolog.
Gejala
Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi: pasien sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi. Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin.
Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:
1. Gejala-gejala Positif
Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.
2. Gejala-gejala Negatif
Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).
Meski bayi dan anak-anak kecil dapat menderita skizofrenia atau penyakit psikotik yang lainnya, keberadaan skizofrenia pada grup ini sangat sulit dibedakan dengan gangguan kejiwaan seperti autisme, sindrom Asperger atau ADHD atau gangguan perilaku dan gangguan Post Traumatic Stress Dissorder. Oleh sebab itu diagnosa penyakit psikotik atau skizofrenia pada anak-anak kecil harus dilakukan dengan sangat berhati-hati oleh psikiater atau psikolog yang bersangkutan.
Pada remaja perlu diperhatikan kepribadian pra-sakit yang merupakan faktor predisposisi skizofrenia, yaitu gangguan kepribadian paranoid atau kecurigaan berlebihan, menganggap semua orang sebagai musuh. Gangguan kepribadian skizoid yaitu emosi dingin, kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyendiri. Pada gangguan skizotipal orang memiliki perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil, afek sempit, percaya hal-hal aneh, pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya, persepsi pancaindra yang tidak biasa, pikiran obsesif tak terkendali, pikiran yang samar-samar, penuh kiasan, sangat rinci dan ruwet atau stereotipik yang termanifestasi dalam pembicaraan yang aneh dan inkoheren.
Tidak semua orang yang memiliki indikator premorbid pasti berkembang menjadi skizofrenia. Banyak faktor lain yang berperan untuk munculnya gejala skizofrenia, misalnya stresor lingkungan dan faktor genetik. Sebaliknya, mereka yang normal bisa saja menderita skizofrenia jika stresor psikososial terlalu berat sehingga tak mampu mengatasi. Beberapa jenis obat-obatan terlarang seperti ganja, halusinogen atau amfetamin (ekstasi) juga dapat menimbulkan gejala-gejala psikosis.
Penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu menghindari reaksi yang berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan. Perawatan terpenting dalam menyembuhkan penderita skizofrenia adalah perawatan obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan dengan perawatan terapi psikologis.
Kesabaran dan perhatian yang tepat sangat diperlukan oleh penderita skizofrenia. Keluarga perlu mendukung serta memotivasi penderita untuk sembuh. Kisah John Nash, doktor ilmu matematika dan pemenang hadiah Nobel 1994 yang mengilhami film A Beautiful Mind, membuktikan bahwa penderita skizofrenia bisa sembuh dan tetap berprestasi.
Kamis, Januari 06, 2011
ILEUS
ILEUS
adalah hilangnya pasase isi usus. Ileus Obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik. Ileus Paralitik adalah hilangnya peristaltic usus sementara.
Ileus diklasifikasikan menjadi :
1. Ileus Mekanik ;
a. Lokasi Obstruksi : > Letak Tinggi : Duodenum-Jejunum
> Letak Tengah : Ileum Terminal
> Letak Rendah : Colon-Sigmoid-rectum
b. Stadium : > Parsial ; menyumbat lumen sebagian
> Simple/Komplit: menyumbat lumen total
> Strangulasi: Simple dengan jepitan vasa
2. Ileus Neurogenik
a. Adinamik : Ileus Paralitik
b. Dinamik : Ileus Spastik
3. Ileus Vaskuler : Intestinal ischemia
Etiologi
1. Ileus Obstruktif
a. Hernia Inkarserata
b. Non Hernia : > Penyempitan lumen usus; > Isi Lumen : Benda asing, skibala,
ascariasis.
> Dinding Usus : stenosis (radang
kronik), keganasan.
> Ekstra lumen : Tumor intraabdomen.
> Adhesi
> Invaginasi
> Volvulus
> Malformasi Usus
2. Ileus Paralitik
a. Pembedahan Abdomen
b. Trauma abdomen
c. Infeksi: peritonitis, appendicitis, diverticulitis
d. Pneumonia
e. Sepsis
f. Serangan Jantung
g. Ketidakseimbangan elektrolit, khususnya natrium
h. Kelainan metabolik yang mempengaruhi fungsi otot
i. Obat-obatan: Narkotika, Antihipertensi
j. Mesenteric ischemia
Patofisiologi
Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utama adalah obstruksi paralitik di mana peristaltik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang.
Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok—hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorpsi cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek lokal peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorpsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan bakteriemia.
Diagnosis
1. Subyektif -Anamnesis
Gejala Utama:
> Nyeri-Kolik : o Obstruksi usus halus : kolik dirasakan disekitar umbilikus
o Obstruksi kolon : kolik dirasakan disekitar suprapubik.
> Muntah: o Stenosis Pilorus : Encer dan asam
o Obstruksi usus halus : Berwarna kehijauan
o Obstruksi kolon : onset muntah lama.
> Perut Kembung (distensi)
> Konstipasi : o Tidak ada defekasi
o Tidak ada flatus
Adanya benjolan di perut, inguinal, dan femoral yang tidak dapat kembali menandakan adanya hernia inkarserata. Invaginasi dapat didahului oleh riwayat buang air besar berupa lendir dan darah. Pada ileus paralitik e.c. peritonitis dapat diketahui riwayat nyeri perut kanan bawah yang menetap. Riwayat operasi sebelumnya dapat menjurus pada adanya adhesi usus. Onset keluhan yang berlangsung cepat dapat dicurigai sebagai ileus letak tinggi dan onset yang lambat dapat menjurus kepada ileus letak rendah.
2. Obyektif-Pemeriksaan Fisik
Adanya strangulasi ditandai dengan adanya lokal peritonitis seperti:
> Takikardia
> Pireksia (demam)
> Lokal tenderness dan guarding
> Rebound tenderness
> Nyeri lokal
> Hilangnya suara usus local
Untuk mengetahui secara pasti hanya dengan laparotomi.
Obstruksi
Inspeksi
Perut distensi, dapat ditemukan kontur dan steifung. Benjolan pada regio inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada Intussusepsi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya.
Auskultasi
Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi, borborhygmi. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang.
Perkusi
Hipertimpani
Palpasi
Kadang teraba massa seperti pada tumor, invaginasi, hernia.
Rectal Toucher
- Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease
- Adanya darah dapat menyokong adanya strangulasi, neoplasma
- Feses yang mengeras : skibala
- Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi
- Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi
- Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis
Radiologi
Foto Polos:
Pelebaran udara usus halus atau usus besar dengan gambaran anak tangga (air step ladder) dan air-fluid level. Penggunaan kontras dikontraindikasikan adanya perforasi-peritonitis. Barium enema diindikasikan untuk invaginasi, dan endoskopi disarankan pada kecurigaan volvulus.
Paralitik
Pada ileus paralitik ditegakkan dengan auskultasi abdomen berupa silent abdomen yaitu bising usus menghilang. Pada gambaran foto polos abdomen didapatkan pelebaran udara usus halus atau besar tanpa air-fluid level.
Penanganan Ileus
1. Konservatif
• Penderita dirawat di rumah sakit.
• Penderita dipuasakan
• Kontrol status airway, breathing and circulation.
• Dekompresi dengan nasogastric tube.
• Intravenous fluids and electrolyte
• Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.
• Lavement jika ileus obstruksi, dan kontraindikasi ileus paralitik.
2. Farmakologis
• Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob.
• Analgesik apabila nyeri.
3. Operatif
• Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan
peritonitis.
• Obstruksi usus dengan prioritas tinggi adalah strangulasi, volvulus, dan
jenis obstruksi kolon.
• Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk
mencegah sepsis sekunder atau rupture usus.
• Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang
disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi.
o Lisis pita untuk band
o Herniorepair untuk hernia inkarserata
o Pintas usus : ileostomi, kolostomi.
o Reseksi usus dengan anastomosis
o Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi.
Komplikasi
• Nekrosis usus
• Perforasi usus
• Sepsis
• Syok-dehidrasi
• Abses
• Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi
• Pneumonia aspirasi dari proses muntah
• Gangguan elektrolit
• Meninggal
Prognosis
• Saat operasi, prognosis tergantung kondisi klinik pasien sebelumnya.
• Setelah pembedahan dekompresi, prognosisnya tergantung dari penyakit yang
mendasarinya.
Referensi :
Macam-macam bos.
Kalo ada yg kurang, tolong di tambahin.
kalo ada yg gak ngerti tolong dicariin ya artinya.
wkwkwkw
adalah hilangnya pasase isi usus. Ileus Obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik. Ileus Paralitik adalah hilangnya peristaltic usus sementara.
Ileus diklasifikasikan menjadi :
1. Ileus Mekanik ;
a. Lokasi Obstruksi : > Letak Tinggi : Duodenum-Jejunum
> Letak Tengah : Ileum Terminal
> Letak Rendah : Colon-Sigmoid-rectum
b. Stadium : > Parsial ; menyumbat lumen sebagian
> Simple/Komplit: menyumbat lumen total
> Strangulasi: Simple dengan jepitan vasa
2. Ileus Neurogenik
a. Adinamik : Ileus Paralitik
b. Dinamik : Ileus Spastik
3. Ileus Vaskuler : Intestinal ischemia
Etiologi
1. Ileus Obstruktif
a. Hernia Inkarserata
b. Non Hernia : > Penyempitan lumen usus; > Isi Lumen : Benda asing, skibala,
ascariasis.
> Dinding Usus : stenosis (radang
kronik), keganasan.
> Ekstra lumen : Tumor intraabdomen.
> Adhesi
> Invaginasi
> Volvulus
> Malformasi Usus
2. Ileus Paralitik
a. Pembedahan Abdomen
b. Trauma abdomen
c. Infeksi: peritonitis, appendicitis, diverticulitis
d. Pneumonia
e. Sepsis
f. Serangan Jantung
g. Ketidakseimbangan elektrolit, khususnya natrium
h. Kelainan metabolik yang mempengaruhi fungsi otot
i. Obat-obatan: Narkotika, Antihipertensi
j. Mesenteric ischemia
Patofisiologi
Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utama adalah obstruksi paralitik di mana peristaltik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang.
Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok—hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorpsi cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek lokal peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorpsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan bakteriemia.
Diagnosis
1. Subyektif -Anamnesis
Gejala Utama:
> Nyeri-Kolik : o Obstruksi usus halus : kolik dirasakan disekitar umbilikus
o Obstruksi kolon : kolik dirasakan disekitar suprapubik.
> Muntah: o Stenosis Pilorus : Encer dan asam
o Obstruksi usus halus : Berwarna kehijauan
o Obstruksi kolon : onset muntah lama.
> Perut Kembung (distensi)
> Konstipasi : o Tidak ada defekasi
o Tidak ada flatus
Adanya benjolan di perut, inguinal, dan femoral yang tidak dapat kembali menandakan adanya hernia inkarserata. Invaginasi dapat didahului oleh riwayat buang air besar berupa lendir dan darah. Pada ileus paralitik e.c. peritonitis dapat diketahui riwayat nyeri perut kanan bawah yang menetap. Riwayat operasi sebelumnya dapat menjurus pada adanya adhesi usus. Onset keluhan yang berlangsung cepat dapat dicurigai sebagai ileus letak tinggi dan onset yang lambat dapat menjurus kepada ileus letak rendah.
2. Obyektif-Pemeriksaan Fisik
Adanya strangulasi ditandai dengan adanya lokal peritonitis seperti:
> Takikardia
> Pireksia (demam)
> Lokal tenderness dan guarding
> Rebound tenderness
> Nyeri lokal
> Hilangnya suara usus local
Untuk mengetahui secara pasti hanya dengan laparotomi.
Obstruksi
Inspeksi
Perut distensi, dapat ditemukan kontur dan steifung. Benjolan pada regio inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada Intussusepsi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya.
Auskultasi
Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi, borborhygmi. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang.
Perkusi
Hipertimpani
Palpasi
Kadang teraba massa seperti pada tumor, invaginasi, hernia.
Rectal Toucher
- Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease
- Adanya darah dapat menyokong adanya strangulasi, neoplasma
- Feses yang mengeras : skibala
- Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi
- Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi
- Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis
Radiologi
Foto Polos:
Pelebaran udara usus halus atau usus besar dengan gambaran anak tangga (air step ladder) dan air-fluid level. Penggunaan kontras dikontraindikasikan adanya perforasi-peritonitis. Barium enema diindikasikan untuk invaginasi, dan endoskopi disarankan pada kecurigaan volvulus.
Paralitik
Pada ileus paralitik ditegakkan dengan auskultasi abdomen berupa silent abdomen yaitu bising usus menghilang. Pada gambaran foto polos abdomen didapatkan pelebaran udara usus halus atau besar tanpa air-fluid level.
Penanganan Ileus
1. Konservatif
• Penderita dirawat di rumah sakit.
• Penderita dipuasakan
• Kontrol status airway, breathing and circulation.
• Dekompresi dengan nasogastric tube.
• Intravenous fluids and electrolyte
• Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.
• Lavement jika ileus obstruksi, dan kontraindikasi ileus paralitik.
2. Farmakologis
• Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob.
• Analgesik apabila nyeri.
3. Operatif
• Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan
peritonitis.
• Obstruksi usus dengan prioritas tinggi adalah strangulasi, volvulus, dan
jenis obstruksi kolon.
• Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk
mencegah sepsis sekunder atau rupture usus.
• Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang
disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi.
o Lisis pita untuk band
o Herniorepair untuk hernia inkarserata
o Pintas usus : ileostomi, kolostomi.
o Reseksi usus dengan anastomosis
o Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi.
Komplikasi
• Nekrosis usus
• Perforasi usus
• Sepsis
• Syok-dehidrasi
• Abses
• Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi
• Pneumonia aspirasi dari proses muntah
• Gangguan elektrolit
• Meninggal
Prognosis
• Saat operasi, prognosis tergantung kondisi klinik pasien sebelumnya.
• Setelah pembedahan dekompresi, prognosisnya tergantung dari penyakit yang
mendasarinya.
Referensi :
Macam-macam bos.
Kalo ada yg kurang, tolong di tambahin.
kalo ada yg gak ngerti tolong dicariin ya artinya.
wkwkwkw
Langganan:
Komentar (Atom)
